Jumlah Kasus Covid-19 Harian di Singapura Berlipat Ganda Setiap Minggunya

Menteri Kesehatan Ong Ye Kung mengatakan Singapura harus bersiap untuk melihat kasus COVID-19 hariannya segera mencapai 1.000. Pasalnya, jumlah kasus harian di Singapura berlipat ganda setiap minggunya.

“Ini adalah hari ke 26 dari gelombang arus. Kasus harian, seperti yang kami duga, telah berlipat ganda setiap minggu dari 100 menjadi 200, menjadi 400, dari 400 menjadi 800, dan sekarang dalam siklus penggandaan keempat,” ujarnya dikutip dari Channel News Asia, Sabtu, (18/9/2021).

“Saya pikir mari bersiap untuk kemungkinan melewati angka 1.000 segera. Itu tidak terduga, itu adalah perilaku khas dari gelombang transmisi yang biasanya memuncak antara empat dan hingga delapan minggu, atau 30, 40, kadang-kadang 50 hari,” lanjutnya.

Setiap negara yang hampir pernah mengalami gelombang penularan besar, seperti Indonesia. Namun, gelombang infeksi Singapura dinilai berbeda dari apa yang dialami negara lain. Pasalnya, kasus di Singapura meningkat saat tingkat vaksinasi juga tinggi.

“Yang lain sayangnya menghadapi gelombang seperti itu di awal pandemi, menimbulkan banyak korban. Bagi kami, kami akan melalui ini hanya setelah kami sepenuhnya memvaksinasi sekitar 80 persen dari populasi kami,” kata Ong.

Kementerian Kesehatan Singapura mencatat rata-rata jumlah kasus COVID-19 di Singapura meningkat dari 146 kasus per hari, dua pekan lalu menjadi 682 kasus per hari dalam sepekan terakhir. Namun, jumlah kasus serius tetap rendah untuk saat ini.

“Ini sebagian besar disebabkan oleh program vaksinasi, yang telah mencakup 82 persen penduduk kami hingga saat ini. Kejadian penyakit parah tidak merata, sebagian besar berkonsentrasi pada orang yang lebih tua dan terinfeksi yang tidak divaksinasi,” tambahnya.

Kendati demikian, Singapura masih berada di awal gelombang penularan baru dan harus terus waspada.

Baca Juga  Kenali Cara Mengatasi Insomnia yang Perlu Diketahui

Menteri Kesehatan menekankan bahwa vaksinasi saja tidak akan memungkinkan Singapura hidup dengan COVID-19, dengan mempertimbangkan faktor-faktor lain seperti pengobatan, pemakaian masker, dan rezim pengujian.

“Gabungkan semua ini, maka ada kemungkinan, dan saya yakin kita bisa hidup dengan COVID-19 sebagai penyakit yang hampir endemik. Singkirkan bagian apa pun, komponen apa pun dan saya pikir kami tidak akan berhasil,” katanya.

“Dari sini kita harus mulai menyesuaikan aktivitas sosial kita, terutama mereka yang sudah lanjut usia atau memiliki penyakit kronis. Mulai penyesuaian, mulai praktikkan NPI (intervensi nonfarmasi), mulai tes, lalu saya pikir kita bisa hidup berdampingan dengan virus,” jelasnya.

sumber.health.detik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *